Hei Sobat, maaf banget baru kali ini sempat posting lagi. habis bertapa di Gunung Muria yang sepi nyenyet tanpa koneksi internet, he,he,he. masih pada baik kan kabarnya? Alhamdulilah.
Pemerintah sejak dulu gembar-gembor masalah peningkatan kualitas pendidikan di negeri tercinta ini. salah satunya dengan menganggarkan biayanya sekian persen, namun, pada kenyataannya yang digelontorkan dicukupkan sepersekian koma sepersekian persennya saja (jadi mumet). memang i’tikad itu sangatlah baik. tapi realitanya di lapangan sangatlah bertolak belakang dengan i’tikad itu. jadinya ya… wallahu a’lam.
Andai saja dana yang sekian persen itu benar-benar terealisasi, bisa jadi tidak ada sekolah yang gulung tikar alias kepingin cepat-cepat ambruk. andai saja dana itu benar-benar terwujud, kita tak perlu pusing-pusing lagi karena dilangkahi oleh negeri-negeri tetangga. Andai saja dana itu benar-benar terealisasikan, tentu tak ada lagi WNI yang buta aksara.
yah, itu kalau bicara masalah dana. dari dulu di negeri tercinta ini masalah dana selalu seret. ibarat kran air, ngucurnya sedikiiit banget. Apa sudah jadi budaya, ya?
lalu, sobat, ada lagi yang kian menggelitik benak daku ini. masalah buku! Benar. Terlihat dari judul tulisan ini. Seirirng dengan kenaikan BBM, semuanya pun tak urung jadi ikut naik. Harga-harga melangit. sedihnya, harga buku juga diisukan ikut melonjak. Duh, tahu kan kalau hobi saya itu mengunyah buku…
Jadi, gimana mau pinter kalau buku mahal? Gimana mau mendapat cukup pengetahuan kalau tak mampu beli buku? Ah, saya menemukan paradoks lagi. Masyarakat dituntut maju dan cerdas, tetapi alat untuk cerdas itu malah dipersulit pemakaiannya. lalu harus bagaimana ya? apakah buku juga akan menjadi sesuatu yang teramat mahal untuk dimiliki?
Seandainya semuanya bisa mengunyah buku senikmat ini…

berarti sekarang saatnya mengamalkan ilmu dalam buku yang pernah jenengan baca…
jadilah pendidik bagi mereka yang ga punya kesempatan baca buku…hhe…
Oleh: ana on Juni 13, 2008
at 5:01 am
kalo bisa cerdas dengan membaca mengapa harus beli? pinjem aja ma temen2.
katasalim:
ada dosen yang pernah bilang, orang yang mau minjemi buku itu orang yang bodoh, lebih bodoh lagi orang yang mau mengembalikan buku yang dipinjam. tentu saja bercanda ^_^
Oleh: dampoawang on Juni 22, 2008
at 2:17 am
maaaf mau tanya…ini salim a. fillah kah?
katasalim:
afwan bukan mbak. Ini Salim tok. Saya kebetulan Anggota FLP Semarang, anak buah Mas Ali Margosim, zona Sekaran. Kalo mbak masih ingat, kita pernah berdiskusi kecil di Masjid Ulul Albab, masjid kamus Unnes, seusai Mbak membedah novel D’Winst. Syukron sudah mampir di blog sederhana ini.
Oleh: Afra Afifah on November 14, 2008
at 8:21 pm